Bursa saham AS kembali kembali bergolak. Imbasnya pasar modal di kawasan Eropa dan Asia Pasifik juga juga berguncang. Indeks Straits Times Singapura, Hang Seng Hong Kong dan Nikkei Tokyo misalnya, mengalami koreksi yang cukup signifikan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa Efek Jakarta juga melorot di bawah level 2.200 meski beberapa hari kemudian mengalami perbaikan. Sejumlah analisis memperkirakan sekitar US$ 2,66 triliun dana investasi keluar dari pasar saham Asia (Tempointeraktif, 7 Agustus).
Kegoncangan ini sebagaimana yang dirilis oleh the Economist bermula dari krisis kredit yang menimpa sejumlah perusahaan sub prime mortgage di AS, perusahaan pemberi kredit perumahan yang khususnya ditujukan bagi mereka yang memiliki pendapatan yang rendah. Perusahaan ini selanjutnya menerbitkan surat berharga dengan jaminan perumahan tersebut yang dijual di pasar modal. Para spekulan kemudian membeli surat-surat berharga tersebut dengan harapan di masa yang akan datang harga rumah yang menjadi jaminan surat berharga tersebut. Karena peminatnya semakin banyak baik individu maupun perusahaan maka nilainya terus menggelembung melampaui nilai riil properti yang dijadikan jaminan.
Lama kelamaan harga rumah tidak lagi didasarkan pada tingginya permintaan terhadap rumah namun pada tingginya permintaan terhadap surat utang tersebut. Tragisnya gelembung penjualan surat mortgage yang mulai marak di era 90-an ini kembali meledak. Pemicunya pernyataan sejumlah pemilik perusahaan mortgage yang menyatakan bahwa sejumlah peminjam yang berbasis jaminan perumahan tak lagi mampu membayar utang mereka (default).
Dampaknya para investor baik yang memegang surat mortgage tersebut panik dan berlomba menjual surat-surat berharga tersebut (panic selling). Karena semakin banyak yang menjual surat berharga itu maka nilainya pun terus anjlok. Akibatnya banyak investor baik yang berbentuk perorangan maupun lembaga yang mengalami kerugian bahkan tidak sedikit yang bangkrut. Sebelumnya pada bulan Maret 2007 sekitar puluhan perusahaan sub prime AS mengalamai kebangkrutan termasuk yang paling besar New Century Financial. Utang publik yang ditinggalkan sekitar 8,5 triliun dollar atau tujuh kali jumlah uang beredar (M1) yang berjumlah 1,3 triliun dollar AS (Khilafah.com, 22/8).
Berikutnya, bank-bank yang telah mengucurkan dananya untuk pembiayaan sektor perumahan tersebut mengalami kesulitan modal. Bank Sentral AS, Federal Reserve terpaksa melakukan intervensi dengan menurunkan tingkat suku bunga pinjaman perbankan (discount rate) dari 6,25 menjadi 5,75 persen. Diperkirakan lebih dari 800 miliar dollar AS telah dikucurkan oleh bank-bank sentral di seluruh dunia untuk meredakan krisis ini. (Khilafah.com, 22/8). Bank Sentral Eropa saja pada tanggal 9 Augstus saja mengucurkan 131 miliar dollar AS ke pasar modal. (Economist, 9/8)
Di dalam negeri, gejolak sektor keuangan ini membuat sejumlah investor khususnya asing melakukan aksi profit taking dengan mengalihkan investasi mereka ke dalam dolar. Akibatnya, nilai tukar rupiah juga terpuruk mendekati Rp. 9.500 per dollar. Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter pun berupaya meredam gejolak ini dengan terus menggelontor cadangan devisanya agar rupiah tidak terdepresiasi terlalu jauh. (Kompas, 18/8/07).
Namun demikian pihak pemerintah menanggapi masalah ini dengan dingin. Menurut Sri Mulyani keadaan ini tidak akan menjurus pada krisis yang lebih parah. Fundamental Ekonomi juga dianggap cukup kuat. Bahkan Presiden SBY menyerahkan sepenuhnya penyelesaian masalah ini kepada negara-negara besar (KoranTempo,18/8).
Penyakit Bawaan
Goncangan moneter di dalam sistem keuangan kapitalistik memang fenomena umum yang efeknya sangat mengganggu bahkan kadang mematikan. Perjalanan sistem ini telah diwarnai sejumlah krisis, sebut saja misalnya depresi ekonomi tahun 1929, 1980, dan 1987. Buku laris Profesor Charles P. Kindleberger: Manias,
Panics, and Crashes: A History of Financial Crises(1996) telah mengurai kejadian-kejadian tersebut secara detail. Pengalaman krisis yang belum pudar dari ingatan bahkan efeknya masih teras sampai sekarang adalah krisis moneter yang melanda kawasan Asia tahun 1997.
Salah satu faktor penyangga sistem ini adalah adanya pasar uang dan pasar saham yang menjadi tempat transksi modal dan mata uang yang spekulatif. Termasuk dalam hal ini adalah penjualan mortgage secuties. Pada faktanya transaksi yang terjadi di sektor nonriil ini jauh melampuai jumlah transaksi di sektor riil. Menurut The Economist (16/6/01) pada tahun 1971, tidak kurang dari 90 persen transaksi finansial terkait dengan ekonomi non riil dalam berbagai macam investasi jangka panjang dan hanya 10 persen yang digunakan untuk spekulasi. Namun keadaan kemudian berbalik. Tahun 1996 saja, sekitar 95 persen dari 1,2 dollar AS transaksi finansial global perhari berupa spekulasi, dan 80 persen diantaranya merupakan spekulasi mondar-mandir dengan kecepatan 1-7 hari (Deliarnov, 2006).
Krisis Sub-Prime morgage ini mirip dengan krisis yang melanda Thailand tahun 1997 yang kemudian memberi efek domino (contagion effect) ke sejumlah negara di kawasan Asia. Sebelumnya, negara ini dipuja karena masuk dalam kategori negara yang mengalami pertumbuhan yang fantastis. Namun pujian itu berakhir dengan meledaknya balon ekonomi negara tersebut (bubble economic). Pemicunya adalah pembangunan real estate yang terus berlangsung tidak diimbangi oleh peningkatan daya beli masyarakat yang terus merosot. Sejumlah Perusahaan real estate terkemuka kemudian tidak mampu membayar utangnya kepada sejumlah bank. Para investor saham yang lebih cerdik mulai menarik dana mereka. Keprihatinan kemudian berubah menjadi kepanikan. Saham-saham kemudian anjlok. Intervensi pemerintah Thailand sebesar 9 miliar USD tidak banyak menolong. Bahkan para spekulan mengambil keuntungan dari intervensi tersebut. Satu juta orang thailand dalam waktu tiga bulan kehilangan pekerjaan. Demikian pula pinjaman pemerintah kepada IMF sebesar 17,2 miliar dollar AS untuk membayar utang luar negeri perusahaan keuangan, tidak banyak membantu. Meski demikian para spekulator telah menangguk keuntungan dari kerapuhan sistem ekonomi negara tersebut (Walden Bello, ”The End of the Asian Miracle” 1998 dalam Korten).
Krisis yang menimpa Thailand tersebut kemudian melanda negara-negara Asia lainnya. Indonesia kehilangan lebih dari 15 persen tenaga kerjanya pada bulan Agustus 1998. Di Korea Selatan angka kemiskinannya naik tiga kali lipat. Lebih dari seperempat penduduknya menjadi miskin. GDP Indonesia jatuh sebesar 13,1 persen, Korea 6,7 persen dan Thailand 10,8 persen. Ini membuktikan bahwa struktur keuangan dan moneter negara-negara tersebut amat rentan sebagaimana halnya dengan negara-negara lain. Meski menurut Stiglitz (2002) liberalisasi (sektor keuangan) tetap merupakan faktor yang paling penting yang memicu krisis tersebut.
Liberalisasi Sektor Keuangan
Dalam menjalankan transaksinya para investor keuangan senantiasa bertindak spekulatif. Ia akan membeli saham tertentu jika ia memprediksi bahwa bahwa di masa yang akan datang akan lebih tinggi dari harga belinya. Sebaliknya jika ia memprediksi bahwa harganya akan turun maka ia pun melepas sahamnya yang mengakibatkan indeks harga saham perusahaan tersebut menurun. Jika kepanikan ini berlangsung secara massif dimana tindakan tersebut diikuti investor lainnya dengan menjual saham-saham mereka maka dipastikan saham perusahaan tersebut akan anjlok bahkan gulung tikar. Dampak berikutnya adalah menurunya produksi dan membengkaknya angka pengangguran. Inilah yang menimpa Enron, salah satu perusahan terbesar di AS yang bermarkas di Texas. Hal yang sama juga menimpa World.Com yang harga sahamnya anjlok hingga 94 persen. Enron yang mempekerjakan 85. 000 orang di 65 negara tersebut akhirnya bangkrut dan terpaksa merumahkan seluruh karyawannya (Butt, 2002).
Para spekulan tak lagi peduli pada dampak yang mereka timbulkan. Watak ini memang tidak bisa dipisahkan dari para pelaku ekonomi dalam sistem Kapitalisme sebagaimana yang dinyatakan oleh Friedeman dalam Capitalism and Freedom (1962): ”ada satu dan hanya satu, tanggungjawab sosial perusahaan atau bisnis, yaitu menggunakan seluruh sumber daya yang mereka miliki untuk mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya” Meski telah mengalami getirnya krisis keuangan, Indonesia dan negara-negara Kapitalis lainnya tetap tak bergeming dengan sistem moneter yang liberal ini.
Rezim devisa bebas misalnya tetap dipertahankan. Nilai tukar dapat mengambang bebas sehingga membuat nilai tukar dapat berfluktuasi tanpa batas. Uang-uang panas (hot money) yang berjangka pendek bisa keluar masuk mencari imbal hasil yang tinggi dari satu negara ke negara lainnya tanpa mengalami hambatan berarti.
Sebaliknya sektor riil terus mengalami ketidakstabilan harga akibat fluktuasi nilai tukar ini. Akibatnya derajat ketidakpastian usaha semakin besar. Padahal menurut Stiglitz, pemenang Nobel Ekonomi tahun 2001, di banyak negara berkembang liberalisasi modal dan pasar keuangan, justru menciptakan ketidakstabilan dan tidak menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, Bahkan. India dan China yang pertumbuhan ekonominya tinggi terhindar dari krisis Asia tahun 1997 tanpa melakukan liberalisasi. (Kompas, 13/8/07).
Salah satu dampak dari buruknya leberalisasi sektor keuangan juga dinyatakan oleh Robert Mundell (1983) profesor ekonomi dari Universitas Colombia yang menyimpulkan bahwa dalam sistem pertukaran mata uang mengambang (floating rate) maka cadangan devisa lebih banyak dibutuhkan dibandingkan dengan sistem kurs tetap (fixed rate). Cadangan mata uang yang digelentor tersebut ternyata juga sering kali tidak efektif dan malah jatuh ke kantong-kantong spekulan. Sebagai contoh, ketika IMF dan pemerintah Brazil melakukan intervensi pasar sekitar 50 miliar dollar untuk menjaga nilai tukar yang mengalami overvaluasi pada akhir 1998, uang tersebut seakan hilang ditelan angin. Uang tersebut justru mengalir ke para spekulan. Bahkan Stiglizt (2003) menuduh bahwa IMF-lah yang justru menjaga agar para spekulan tersebut tetap dapat menjalankan profesinya.
Negara-negara yang mata uangnya dijadikan sebagai cadangan devisa oleh negara-negara lain juga mendapatkan keuntungan sehingga terus terdorong untuk memproduksi mata uangnya sebagaimana yang dilakukan oleh AS. Saat ini defisit anggaran belanja Amerika mendekati US$1 triliun pada akhir tahun ini sangat mengkhawatirkan pelaku pasar modal khususnya investor non-Amerika. Bukan itu saja menurut Direktur General Accounting Office (GAO) pada 2005, kekayaan federal hanya sekitar US$1 triliun sedangkan utangnya telah mencapai US$7 triliun. Artinya, defisit kekayaannya telah mencapai US$ 6 triliun. Meski demikian, gelembung dollar terus saja dipompa oleh AS yang entah kapan gelembung itu akan meledak. Wajar jika AS dan korporat-korporat yang selama ini meraup keuntungan dari liberasasi ekonomi terus mempertahankan eksistensi sistem ini.
Kembali Ke Syariah
Memang, sejak runtuhnya standar emas dimana mata uang yang beredar dipatok oleh emas yang kemudian disusul oleh runtuhnya sistem Bretton Woods tahun 1971, sistem mengkaitkan supply dollar dengan emas, krisis moneter dan keungan menjadi fenomena umum. Tiap-tiap negara telah mencetak mata uangnya kertas tanpa ditopang oleh sesuatu yang bernilai seperti emas dan perak kecuali jaminan dari pemerintah semata atau oleh mata uang kertas yang juga rapuh seperti dollar. Hal tersebut sebagaimana yang dinyatakan oleh Paul Krugman (2005) telah menyebabkan penderitaan yang sangat besar khususnya bagi para pelaku ekonomi.
Wajar jika sejumlah ekonom menyerukan untuk kembali kepada standar emas dan perak. Termasuk dalam hal ini seruan untuk menghapus berbagai bentuk transaksi-transaksi non riil di bursa-bursa saham yang telah menjadi meja judi raksasa oleh para spekulan, tidak sebatas mengenakan restriksi pajak untuk membatasi ruang gerak mereka. Pada saat yang sama pemerintah harus menata seluruh transaksi-transaksi kapitalistik yang ada agar sejalan dengan tuntunan syariah termasuk menghapus praktek-praktek ribawi yang dijalankan bank-bank dan lembaga keuangan konvensional.
Mempertahankan sistem perekonomian saat ini jelas hanya akan berakibat pada malapetaka berkepanjangan. Goncangan demi goncangan akan terus terjadi. Tapi, sampai kapan umat manusia harus menderita? ila mata?
Manusia, seperti mahluk hidup yang lain, memiliki fitrah untuk mempertahankan hidupnya, berkembang biak, dan merasakan kesenangan. Untuk itu manusia senatiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat untuk berlindung dari cuaca buruk agar dia beserta keturunannya terhindar dari penyakit, tetap hidup, dan terus berkembang biak. Bila seluruh kebutuhan itu terpenuhi dan tidak ada yang berkurang di lingkungan sekitar manusia, maka tidak ada perubahan apapun yang akan terjadi. Namun pada kenyataannya, alam ini senantiasa berubah, jumlah manusia terus bertambah, dan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar itupun tidak selalu tersedia manakala dibutuhkan. Keinginan manusia juga senantiasa berubah-ubah. Ada saatnya manusia memiliki keinginan berlebihan dan ada juga saatnya manusia tidak memiliki keinginan apapun dan bahkan ada yang sudah merindukan kematian karena tidak yakin bahwa hari esok akan lebih baik.
Realitas mengajarkan kita untuk selalu beradaptasi menghadapi keadaan disekitar kita. Ada saatnya kita harus menahan diri, ada saatnya kita terpaksa mengumpulkan lebih dari yang sebenarnya kita butuhkan. Baik sebagai satu individu maupun sebagai sebuah kelompok dalam ikatan sosial yang menyatukan banyak manusia, kita selalu berusaha agar proses pemenuhan kebutuhan itu selalu tercapai. Ditengah lingkungan sosialnya manusia menjadi mahluk ekonomi yang senantiasa mencari suatu kelebihan atas usaha yang dilakukannya, dan ini disepakati menjadi hak asasi setiap manusia. Karena kondisi fisik ada keterbatasannya maka manusia menggunakan akalnya. Dalam rentang evolusi yang panjang, manusia menjadi mahluk hidup yang paling rasional dan memiliki rasio tertinggi antara volume otak dibanding dengan volume seluruh bagian tubuh lainnya. Rasionalitas membenarkan manusia untuk terus menambah apa yang dimilikinya, dan ternyata bukan hanya harta, tahta dan kuasa.
Ketika lemari es belum ditemukan, dan manusia belum bisa menyimpan hasil buruannya untuk jangka yang lama, ternak dan hasil tani menjadi sarana untuk menambah kepemilikan itu. Pengetahuan bercocok tanam dan menggembala diturunkan dari ayah kepada putranya secara turun temurun untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga. Para raja raja pemilik tanah memberi sekeping kulit kerang atau logam kusam bergambar wajahnya kepada setiap warga untuk ditukar seekor lembu atau sekarung beras demi memberi makan istri-istri, anak cucu, dan sepasukan prajurit yang menjaga mereka sebagai harta.
Ketika deru mesin menggiring jutaan manusia meninggalkan ladang dan menjadi buruh pabrik di kota-kota, para pemilik modal dan pengurus partai berbagai aliran sibuk mendidik kaumnya sendiri untuk menjadi penghisap sumber daya dari belahan manapun di dunia agar kepemilikannya senantiasa lebih dari saingannya. Dan para birokrat dijaman itupun sibuk mencetak uang kertas bergambar penggagas ideologi mereka lalu memungut pajak tinggi untuk membiayai mesin mesin perang yang diarahkan kepada siapapun yang berbeda keyakinannya.
Maka, ketika kini pengetahuan menjadi komoditas yang tersedia bagi semua orang hanya dengan menekan beberapa tombol komputer saja, manusia sedunia ramai ramai memasang foto dirinya diatas selembar kartu plastik, dan jadilah uangnya sendiri. Tanpa sepetak tanah, tanpa sepucuk senjata, kini sebuah Multi National Corporation – milik kaum High Net Worth yang tidak jelas lagi kebangsaannya – bisa memungut “pajak” atas setiap transaksi dibelahan manapun di dunia ini. Kemanapun mata memandang, kemanapun telinga mendengar, manusia dijejali dengan realitas semu media konsumerisme yang semakin lama semakin menyesakkan nafas dan memanaskan temperatur bumi.
Ternyata rasionalitas manusia itu belum mampu melepaskan dirinya sendiri dari ketidak rasionalan perasaan dan berbagai macam emosi yang menyertainya. Ternyata, adalah fitrah manusia juga untuk senantiasa mendengar suara bathin betapapun dalamnya perasaan dan rasionalitas itu tertimbun angan-angan berkarung-karung kulit kerang, berpeti-peti batangan emas, berbrankas-brankas kertas bergambar wajah pahlawan, ataupun jutaan rangkaian kombinasi angka 0 dan 1 dalam sekeping silicon chip. Inilah anugerah terbesar yang diberikan Sang Maha Pencipta agar manusia bisa memilih jalan untuk kembali kepada Nya karena pada akhirnya nanti, kita semua akan menjadi bagian dari alam dimana uang kerap menjadi utang.